Hello..... Welcome to my blog :D I hope you enjoy here :) this blog specially for SoniQ, Always BD, Siwonest, Zaynster and Shivers :). Thank you for visiting and don’t forget to leave your comment guys :D Waiting For You Until I Die (Iqbaal Salsha Story) | Lollypop Love

Selasa, 10 Desember 2013

Waiting For You Until I Die (Iqbaal Salsha Story)

WAITING FOR YOU UNTIL I DIE
“Nglamunin ‘dia’ lagi?”Tanya Kareininna Bella Indira atau yang biasa dipanggil Bella, sahabatku
Aku mengangguk lesu
“Cih, sampai kapan sih lo terus ngarepin dia? Sadar Sal sadar ‘dia’ itu Cuma masa lalu lo.”
Aku menghela nafas berat lalu menggeleng pelan
“Ayolah Sal lo tuh udah nyia-nyiaiin waktu lo buat nunggu hal yang gak akan terjadi.”
Aku menatap Bella tajam”Kata siapa gue yakin kok suatu saat ‘dia’ bakal dateng dan nepatin janjinya.”
Kini giliran Bella yang menghela nafas berat”Salsha Angela Putri, gue tuh gak mau lo terus-terusan kaya gini, nunggu hal-hal bulshit yang di ucapin cinta monyet lo 10 tahun yang lalu itu.”
“Iqbaal bukan cinta monyet gue tapi jodoh yang udah Tuhan takdirin buat gue, dan asal lo tau suatu saat Iqbaal bakal dateng dan minta gue jadi istrinya, inget itu.”
Setelah berkata demikian aku pergi meninggalkan Bella yang masih menatapku tak mengerti.
*
Aku mengayunkan kakiku pelan di atas ayunan kayu yang ada dibelakang rumahku. Dulu saat  aku masih kecil aku sering bermain disini bersama Iqbaal, sahabat kecilku. Kami bersahabat sejak umur 3 tahun. Saat itu keluarga Iqbaal baru saja pindah ke Jakarta. Orang tua Iqbaal memang sering pindah karena tuntutan pekerjaan ayahnya. Saat itu Iqbaal selalu dititipkan dirumahku karna kesibukan orang tuanya. Kami selalu bermain bersama, setiap sore Iqbaal membonceng aku keliling taman. Kami benar-benar tidak bisa terpisahkan, sampai-sampai saat kami masuk SD diusia kami yang ke 7 tahun aku sempat ngambek karna tidak duduk satu bangku dengan Iqbaal. Baru beberapa bulan masuk SD, aku harus menerima kenyataan pahit karna Iqbaal harus pindah ke Jerman bersama orang tuanya. Dan mereka mengatakan mereka tidak akan pindah-pindah lagi mereka akan menetap disana. Aku benar-benar marah saat itu, aku mengurung diriku dikamar. Aku tidak mau makan, sekolah, bahkan berbicarapun aku enggan. Dan disaat hari kepindahan Iqbaal, Iqbaal menemuiku dan berjanji akan kembali untukku.
“Cha Cha jangan nangis ya, Ibal bakal balik kok. Nanti kalo kita udah gede Ibal janji, Ibal bakal nikahin Cha Cha.”
“Ibal celius?”
“Iya, tungguin Ibal ya Cha.”
Kata-kata Iqbaal sepuluh tahun yang lalu pun masih kuingat jelas dalam otakku. Aku tidak akan melupakan janji itu dan aku akan menagih janji itu saat Iqbaal kembali nanti lagipula aku punya surat perjanjian yang kita tanda tangani dulu dan aku masih menyimpannya hingga kini.
“Salsha Salsha.”teriak seseorang yang mengagetkanku hingga membuatku jatuh tersungkur dari atas ayunan
Aku menoleh kebelakang, seharusnya aku sudah tau suara nyaring seperti itu hanya milik Bella. Bella berlari tergopoh-gopoh menghampiriku”Sal Salsha.”Ia kembali berteriak
Aku mendengus sebal, ada apa sih hingga ia seperti orang kebakaran jenggot seperti itu? Aku berdiri sambil membersihkan bajuku yang agak kotor akibat jatuh tadi.
“Sal gue punya berita bagus buat lo.”ujarnya antusias begitu sampai didepanku
“Apa?”ujarku sama sekali tak berminat
“Ini soal Iqbaal.”ujarnya yang membuatku membelalak saat itu juga
“Kenapa sama Iqbaal, kenapa hah?”tanyaku tak sabaran
“Tadi waktu gue jalan kesini gue lihat rumah disebelah ada orang pindahan, itu rumah Iqbaal kan? Kali aja itu Iqbaal.”
Selama 10 tahun ini memang rumah milik keluarga Iqbaal dibiarkan kosong dan aku tidak pernah mendengar rumah itu akan dijual. Dan mungkin Bella benar yang baru saja pindahan itu mungkin Iqbaal. Tanpa mau membuang waktu aku langsung berlari keluar rumah aku benar-benar tidak sabar bertemu dengan Iqbaal.
“Salsha tungguin gue.”teriak Bella yang sama sekali tak kuhiraukan
Aku tidak peduli yang pasti aku benar-benar ingin bertemu Iqbaal sekaran!
*
Sesampainya aku didepan rumah Iqbaal aku melihat truk pengangkut barang yang parkir. Aku juga melihat beberap orang yang hilir mudik memasukkan barang-barang kedalam rumah Iqbaal. Aku berlari kedalam rumah”Iqbaal.”teriakku
Orang-orang yang tengah mengangkut barang menatpku bingung karna berteriak tapi aku sama sekali tak peduli. Pandanganku tertuju pada kolam renang yang ada dibelakang rumah Iqbaal, aku melihat sesosok pemuda yang berdiri memunggungiku sambil menatap kolam renang didepannya. Itu pasti Iqbaal! Aku berlari sekuat tenaga lantas sesampainya dibelakang Iqbaal aku langsung memeluknya dari belakang.
“Iqbaal aku kangen banget sama kamu.”ujarku yang semakin mengeratkan pelukanku padanya
Aku benar-benar merindukannya dan sekarang aku bisa memelukanya. Aku gak akan ngebiarin kamu pergi lagi Baal.
Aku bisa merasakan Iqbaal yang berusaha melepaskan pelukanku dan kini ia berbalik menatapku. Astaga ia begitu tampan sekarang. Ia menatapku bingung”Kamu siapa?”tanyanya yang mebuatku sedih, jadi ia tidak mengingatku?
“Aku Salsha Baal, Salsha Angela Putri sahabat kamu waktu kecil. Kamu Iqbaal Prihandika Saputra kan?”
Iqbaal tampak berusaha mengingat”Aku gak inget sama kamu tuh.”
“Kamu gak inget? kita dulu sering main bareng dan kamu pernah janji buat nikahin aku kalo kita udah gede.”
Iqbaal tampak melongo mendengar ucapanku dan didetik berikutnya ia tertawa renyah dan jujur saja hatiku rasanya teriris sekarang.
“Haha kamu bercanda ya? Aku tuh sama sekali gak inget sama kamu, lagipula aku sekarang udah punya pacar.”
Jleb. Aku membeku ditempatku saat itu juga. Aku bisa merasakan mataku yang mulai mengabur karna tertutup Kristal-kristal bening yang akan tumpah dari mataku saat itu juga.
“Kamu dulu manggil aku Cha Cha dan aku manggil kamu Ibal, kamu masih gak inget juga?ujarku berusaha membuatnya mengingatku
“Udah deh ya kalopun dulu kita pernah sahabatan seharusnya aku inget sama kamu, tapi apa aku sama sekali gak inget tuh sama kamu.”ujarnya sambil melipat tangannya didada”Kalo udah gak ada yang mau diomongin lagi silahkan kamu keluar karna aku sibuk.”
Dan pertahananku runtuh saat itu juga. Air mataku mengalir begitu derasnya. Inikah balasan untukku yang selama ini setia menunggunya?
“Kamu jahat Baal.”ujarku lirih yang kemudian berlari keluar rumah.
Aku sudah tidak tau lagi bagaimana rasanya hatiku yang pasti hatiku kini telah hancur menjadi berkeping-keping menjadi kepingan yang sangat kecil dan tak tahu apakah masih bisa menyatu lagi.
*
“Sal lo kenapa sih, cerita dong sama gue. Buka ya pintunya, please.”
Sedari tadi Bella terus saja merayuku untuk membuka kamar sambil terus mengetuk pintu kamarku. Memang semenjak dari rumah Iqbaal tadi aku mengurung diriku didalam kamar, aku benar-benar ingin sendiri sekarang.
“Sal please buka, lo tuh belum makan dari tadi siang kalo lo sakit gimana?”
Sakit? Aku sama sekali tidak peduli hatiku jauh lebih sakit sekarang. Aku sudah menghabiskan 10 tahun belakangan ini untuk menunggu dan memegang janji yang diucapkan Iqbaal tapi apa balasannya? Mengingatku saja ia tidak, dan yang paling menyakitkan adalah Iqbaal sudah punya pacar.
Bella masih saja terus mengetuk pintu kamarku, aku jadi kasihan ia pasti capek.
“Lo pulang aja Bel, gue lagi pengen sendiri.”
Suaraku benar-benar parau karna menangis terlalu lama.
“Sal gue gak mungkin tega ninggalin lo dalam keadaan kaya gini. Gue bakal tetep disini sampai lo siap cerita sama gue.”katanya keras kepala
Oke aku mengalah, aku berjalan menuju pintu kamarku lantas membukanya. Aku langsung kembali  ke ranjangku sementara Bella mengikutiku dari belakang dengan nampan berisi makanan. Bella meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja belajarku. Ia kini mengulurkan piringnya padaku”Makan dulu gih.”
Aku menggeleng. Aku bisa mendengar Bella menghela nafasnya”Please Sal, jangan nyiksa diri lo sendiri.”
Aku terpaksa mengambil piring yang dilulurkan Bella dan mulai memakannya. Sementara aku makan Bella sibuk memebereskan kamarku yang berantakan dengan tissue yang bertebaran dimana-mana.
“Ada hal yang harus lo tau Sal.”ujar Bella serius begitu aku selesai makan
Aku yang tengah minumpun kini menatpnya dengan tatapan bertanya.
“Ini tentang Iqbaal, sebenarnya Iqbaal itu amnesia makannya dia gak inget sama lo.”
*
Aku tengah asyik memberi makan ikan-ikan hias yang ada di kolam ikan didepanku. Sekarang jam istirahat dan aku lebih memeilih menyendiri ditaman sekolah. Bella memaksaku untuk kekantin bersamanya tapi aku benar-benar ingin sendiri sekarang dan untungnya Bella mengerti. Sebenarnya bukan hanya itu alasanku tidak mau pergi ke kantin. Aku hanya tidak sanggup jika harus bertemu dengan Iqbaal dan kekasihnya. Yah mulai hari ini Iqbaal bersekolah ditempat yang sama denganku. Dan yang membuatku lebih sakit adalah Cassie Ferguson pacar Iqbaal sewaktu di  Jerman ikut pindah ke Indonesia dan untuk sementara waktu Cassie  akan tinggal dirumah Iqbaal.
“Hai Salsha.”
Cassie Ferguson, gadis cantik berwajah bule ini kini ada dihadapanku ia tersenyum miring lantas duduk disebelahku. Gadis ini masih memiliki keturunan Indonesia dari mamanya sehingga ia bisa berbahasa Indonesia meskipun logat bulenya masih sangat kental.
“Gue mau ngomong sama lo.”ujarnya
Aku menatapnya malas”Soal?”
“Iqbaal.”
Aku terdiam membiarkannya untuk bicara.
“Gue tau semuanya soal lo dari Iqbaal, Iqbaal pernah cerita soal lo sebelum dia kecelakaan.”
“Terus?”tanyaku
“Gue mau lo jauhin Iqbaal.”
Aku membelalak, memangnya apa hak gadis ini sampai menyuruhku menjauhi Iqbaal. Oke, mungkin statusnya memang pacarnya Iqbaal. Tapi apa haknya? Orang tua Iqbaal saja tidak pernah melarangku.
“Kalo gue gak mau?”tantangku
Dia menatapku sinis”Hei lo tuh Cuma masa lalunya Iqbaal dan masa depannya Iqbaal itu gue, jadi lo jauh-jauh deh lagipula Iqbaal juga gak inget sama lo.”
Aku balas menatpnya sengit, dipikir aku takut apa sama dia? Hellow seorang Salsha Angela Putri gak akan nyerah gitu aja! Camkan itu!
“Gue bakal bikin Iqbaal inget lagi sama gue, dan saat itu terjadi lo bakal nagis Bombay dan balik lagi ke Negara asal lo ngerti!”
Aku bangkit dari dudukku”Gue gak punya waktu banyak buat ngomong sama orang yang gak penting kaya lo.”
Langkahku terhenti saat ia berteriak
“Lo bakal nyesel berurusan sama seorang Cassie Ferguson, inget itu!”
Aku hanya tersenyum miring lantas kembali melanjutkan langkahku.
*
Aku menatap kotak makanan yang ada ditanganku. Pagi ini aku memasak spaghetti saus barbeque makanan favorit Iqbaal sewaktu kecil dulu. Dan aku yakin Iqbaal masih sangat menyukainya sampai sekarang. Aku sudah bertekad untuk membuat Iqbaal lagi denganku. Dan tekadku sudah sangat bulat!
Aku berjalan menghampiri Iqbaal yang tengah duduk sendirian dibangkunya. Aku sangat bersyukur karna Cassie sedang tidak bersamanya.
“Hai Baal.”sapaku ramah
Iqbaal menangkat wajahnya yang sedari tadi asyik dengan gadget miliknya. Ia menatapku sinis namun aku tetap mencoba terus tersenyum.
“Aku masakin ini buat kamu.”
Aku mengulurkan kota makanan yang kubawa.
“Gak usah gue udah sarapan.”
“Kan bisa kamu makan waktu istirahat.”
“Gue gak mau, okey? Jadi mending lo bawa makanan itu pergi.”
Aku tertunduk”Kenapa kamu gak inget sama sekali sama aku sih Baal?”tanyaku lirih
“Oh ya sebelum lo pergi, gue mohon sama lo buat gak ganggu kehidupan gue dan pacar gue lagi.”
Aku mengangkat wajahku, lalu menatapnya dengan tatapan memelas.
“Cassie bilang kalo kemarin lo gangguin dia, gue gak suka ya lo gangguin pacar gue.”
“Tapi aku gak ngapa-ngapain dia Baal kemarin, dia bohong.”ujarku memprotes rupanya gadis bule itu sudah memfitnahku didepan Iqbaal
“Sayangnya gue lebih percaya sama Cassie daripada sama lo, cewek gak jelas yang ngaku-ngaku sahabat kecil gue.”
Aku bisa merasakan dadaku yang bergemuruh menahan sakit. Rasanya luka dihatiku kini disiram Iqbaal dengan air garam, sakit sekali rasanya. Air mataku menetes begitu saja.
“Kamu sekarang berubah ya Baal, kamu bukan Iqbaal yang dulu aku kenal lagi.”lirihku
“Udah deh jangan sok-sokan sedih didepan gue. Mending lo pergi deh sekarang.”
Aku menjatuhkan kotak makan yang sedari tadi kugenggam. Spaghetti yang sudah kubuat dengan susah payah dari pagi-pagi buta kini berceceran dilantai.
“Kamu bakal nyesel udah giniin aku karna saat kamu udah inget lagi sama aku, aku udah pergi dari kehidupan kamu.”
*
“Lo mau kemana Sal?”Tanya Bella bingung
Aku hanya tersenyum simpul lalu kembali memasukkan beberapa bajuku kedalam tas.
“Jangan bilang lo mau pindah gara-gara sakit hati sama Iqbaal? Ah tega lo Sal ninggalin gue.”
Aku memutar bola mataku lantas mendengus”Gak lah, lo pikir hidup gue sinetron yang abis sakit hati terus pindah rumah biar bisa ngelupain orang yang udah nyakitin gue. Makanya jangan kebnayakn nonton sinetron deh.”
“Terus lo mau kemana?”
“Gue mau ke Surabaya besok.”
“Ngapain?”
“Ada deh.”ujarku lalu melet
Bella manyun”Gak asik lo Sal sama sahabat sendiri main rahasia-rahasiaan.”
Aku hanya terkekeh kecil melihat mulut Bella yang lucu itu. Aku berjalan menuju laci meja belajarku, aku ingin mencari kotak yang dari dulu kusembunyikan disana. Kotak berukuran sedang berwarna ungu muda.
“Apaan tuh Sal?”
Aku berbalik menghadap Bella, kini Bella menatapku penasaran. Aku kembali menuju ranjang dan duduk disisi ranjang, tepat disamping Bella.
Setelah duduk, aku membuka kotak tersebut lalu mengeluarkan kalung berbandul bintang. Aku menyodorkannya pada Bella.
“Ini kalung yang dikasih Iqbaal sebelum pindah.”
Bella mengambil kalung itu. Kini ia menatap bandul bintang yang lumayan besar dan ada ukirang namaku dan iqbaal disitu.
“Bagus banget Sal, lo punya barang lain gak kenang-kenangan dari Iqbaal?”
Aku mengeluarkan surat perjanjian yang kita buat waktu itu. Aku yang menulisnya dengan tanganku sendiri diatas kertas berwarna pink. Kertasnya sudah agak lusuh termakan waktu.
Bella kini membaca surat tersebut didetik berikutnya dia tertawa terbahak-bahak. Sial, dia menertawakanku!
“Haha lucu banget Sal, apa sih yang ada dipikiran lo bikin beginian?”
Aku memajukan bibirku”Tau gini gue gak bakal nunjukin ini ke elo.”
“Jangan marah dong Sal, oh ya lo berangkat kapan?”
“Besok jam 8 pagi emnag kenapa? Lo mau nganterin?”
Bella tersenyum misterius dan jujur aku penasaran apa yang ada dipikirannya.
“Kenapa lo senyum-senyum gitu sih Bel?”
“Ada deh.”
*
Aku sudah memasukkan seluruh barang yang kubawa kedalam bagasi mobil. Pesawatku akan lepas landas sekitar setengah jam lagi dan aku harus segera ke bandara. Aku menutup pintu bagasi lalu berjalan kedepan.
“Salsha.”
Aku mencari siapa yang barusan memanggilku. Mataku membelalak sempurna begitu melihat sipa yang kini berlari ke arahku. Aku pasti bermimpi sekarang. Aku mencubit pipiku sendiri. Aw sakit, berarti ini bukan mimpi!
Kini Iqbaal sudah berdiri didepanku. Nafasnya terengah-engah dan ia masih mengenakan baju tidurnya. Wajar saja ia baru bangun mengingat hari ini adalah hari minggu.
“Ada apa?”tanyaku ketus
Greb
Tiba-tiba saja ia memelukku. Aku menganga, ada apa dengan Iqbaal? Apa dia sudah mengingat semuanya? Kalau iya, terima kasih TUHAN!
“Please, jangan pergi jangan tinggalin aku.”
“Kamu ngomong apa sih?”
Iqbaal melepaskan pelukannya, ia menatapku sendu”Bella bilang kamu mau pindah ke Surabaya.”
Ini pasti rencana Bella, pantas saja ia senyum-senyum sendiri kemarin.
“Please Sal maafin aku, aku emang belum inget semuanya tapi tadi Bella dateng dan bikin aku percaya kalau kamu emang sahabat kecil aku.”
Iqbaal mengeluarkan kalung dan surat dari kantungnya. Dari mana ia bisa mendapatkan itu? Ah iya pasti ini ulah Bella. Tapi, sepertinya kau harus berterima kasih padanya setelah ini.
“Aku janji gak bakal nyakitin kamu lagi, dank aku janji kita bakal tunangan secepatnya terus kita nikah kalau kita udah jadi sarjana dan aku udah kerja.”
“Cassie?”
“Aku udah mutusin dia, dan dia bakal balik ke rumah asalnya.”
Aku tersenyum”Aku gak bakal bisa Baal marah sama kamu, aku terlalu sayang sama kamu.”
Iqbaal kini ikut tersenyum dan ia memelukku lagi namun kali ini lebih erat”Aku gak bakal ninggalin kamu lagi Sal, aku janji.”
“Iya, aku percaya kok tapi lepas ya pelukannya kamu bau.”
Iqbaal melepas pelukannya sambil cengengesan”Maaf yak au gak sempet mandi, aku takut kamu keburu berangkat. Kamu jangan pindah ya, disini aja sama aku.”
“Siapa yang pindah? Aku emang mau ke Surabaya tapi Cuma 4 hari terus balik lagi.”
Iqbaal melongo”Jadi aku dikerjain dong sama Bella?”
Aku tertawa renyah”Haha iya kali, diakan emnag usil orangnya.”
Iqbaal manyun”Awas aja kalo ketemu nanti gue pites tuh anak, dipikir gak malu apa keluar rumah masih pake baju tidur mana muka aku kucel banget.”
“Tetep ganteng kok.”
Iqbaal tersenyum”Iya dong siapa dulu, calon suaminya Salsha.”
“Yaudah kamu masuk mobil gih, biar aku aja yang nganterin kamu ke bandara.”
“Kamu gak malu, ke bandara dengan keadaan kaya gitu?”
“Gak lah, kan kata kamu aku ganteng.”
“Dasar.”
TAMAT



4 komentar:

Hasni Hidayah mengatakan...

Sumpah air mata gue menetes saat baca cerita ini hahah����

husnulms dhiafara mengatakan...

beneran nih? thanks ya udah baca :)

Feyza Hakim mengatakan...

Seru bangeeeet

Feyza Hakim mengatakan...

Seru bangeeeet

Poskan Komentar