Hello..... Welcome to my blog :D I hope you enjoy here :) this blog specially for SoniQ, Always BD, Siwonest, Zaynster and Shivers :). Thank you for visiting and don’t forget to leave your comment guys :D Hubungan Tanpa Status (Iqbaal Bella Story) | Lollypop Love

Selasa, 10 Desember 2013

Hubungan Tanpa Status (Iqbaal Bella Story)

HUBUNGAN TANPA STATUS
Pernahkah kalian merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah kalian miliki?
Aku pernah!
Aku pernah merasakannya!
Kisah ini terjadi padaku dan sahabat baikku, IQBAAL ARESTA KELANA.
*
Aku turun dari motor yang dikendarai Iqbaal. Aku melepas helm yang ku kenakan lantas menaruhnya di motor Iqbaal. Sementara Iqbaalpun juga sama ia sedang melepas helmnya. Dia menatapku sambil tersenyum geli? huh memangnya aku kenapa?
Didetik berikutnya ia merapikan poniku”Poni lo berantakan.”ujarnya sambil tersenyum
Aku ikut tersenyum lantas berkata”Thanks ya.”
Kami berjalan beriringan di koridor sekolah. Iqbaal merangkulku sambil sesekali mengeluarkan lelucon dari mulutnya. Aku tertawa geli mendengar celotehannya, ia memang sosok yang menyenangkan. Langkah kami terhenti saat seorang gadis berdiri didepan kami. Dia juga sahabat baik Iqbaal, namanya Stefhanie Arshinta Devia. Dia cantik, pintar, kaya hmm sempurna bukan?
Steffi tersenyum simpul”Pagi.”sapanya ceria
“Pagi.”jawabku dan Iqbaal bersamaan. Aku dan Iqbaal saling pandang dan didetik berikunya kami tertawa
“Haha kok bisa barengan sih?”Tanya Iqbaal
Aku mengankat kedua bahuku”Tau deh.”
“Baal gue mau ngomong nih.”ujar Steffi
“Apaan?”Tanya Iqbaal dengan alis yang terangkat
Steffi menarik pergelangan tangan Iqbaal”Udah ikut aja.”ujarnya memaksa
Iqbaal manut saja dengan Steffi dan ikut berjalan dibelakang Steffi. Aku menatap mereka yang duduk dibangku semen tak jauh dari tempat ku berdiri. Ada perasaan aneh yang bias dibilang, MENYAKITKAN. Aneh bukan? Come on Bella lo sama Iqbaal gak ada hubungan apa-apa, Cuma teman gak lebih.
Aku duduk di bangku semen yang ada didekatku. Aku mencoba untuk tidak memperdulikan Iqbaal dan Steffi tapi mataku masih saja ingin diam-diam menatap mereka. Aku merutuki diriku sendiri, kenapa aku harus merasa cemburu seperti ini, jelas-jelas aku dan Iqbaal tidak ada hubungan apa-apa. Apa ini artinya aku mencintai Iqbaal? TIDAK MUNGKIN. Kami sudah bersahabat sejak kecil dan tidak mungkin ada cinta diantara kita.
Aku tersentak mendapati sebuah tangan yang mendarat dipundakku. Aku mengangkat wajahku dan mendapati gadis cantik dengan rambut terurai panjang tengah tersenyum padaku. Dia sahabatku juga, Salsha Keyra Amanda.
“Ngangetin aja lo Sal.”omelku
Salsha nyengir memamerkan deretan gigi putihnya lantas duduk disebalahku”Hehe sorry Bel, abisnya lo sih ngelamun mulu.”
Aku tak menaggapi omongan Shalsa. Sial, tanpa komando dariku mataku kembali menatap Iqbaal dan Steffi yang kini tengah tertawa mesra. Uhh, lagi-lagi aku merasa sakit dan sialnya lagi Shalsa memergokiku tengah menatap Iqbaal dan Steffi.
“Lo jealous ngeliat mereka berdua?”tanya Shalsa
Aku menggeleng kuat”Gak.”jawabku tegas”Gue sama Iqbaal Cuma sahabat, gak lebih.”
“Yakin?”
Aku mengangguk cepat.
“Lo gak ada perasaan sedikitpun gitu ke Iqbaal?”
Aku terdiam, menghela nafas sejenak lalu menjawab”Gue gak tau.”ujarku lirih
Salsha mengerutkan keningnya”Kok gitu?”
“Ya pokoknya gue gak tau Sal.”ujarku frustasi
“Lo harus jujur sama perasaan lo sendiri.”
*
Aku terus membolak-balikkan buku biologi didepan ku tanpa minat. Buku yang harusnya ku baca ini menjadi korban kegelisahanku. Aku ini kenapa sih? Kenapa persaanku jadi tidak karuan seperti ini ? Kata-kata Salsha tadi pagi terus berputar diotakku dan itu membuatku gila. Mataku tiba-tiba tertuju ke pintu perpustakaan. Mataku membelalak saat mendapati Iqbaal dan Steffi masuk, mereka bahkan tampak lebih mesra dari tadi pagi. Uhh, menyebalkan sekali kenapa mereka harus terus bersama. Bahkan biasanya saat jam istirahat seperti ini Iqbaal memilih menghabiskan waktunya denganku tapi sekarang ? Aku jadi teringat tadi pagi Iqbaal bilang kalau ia dan Steffi ditugaskan untuk menjadi wakil sekolah dalam olimpiade matematika jadi mereka pasti akan sering bersama. Aku mendengus sebal, kenapa cinta seribet ini sih? Tunggu dulu, aku tadi bilang apa? CINTA? Oh Tuhan aku pasti sudah gila sekarang. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Lagipula selama ini banyak yang menyangka aku dan Iqbaal pacaran dan dengan tegas kami menyangkalnya. Kami memang tidak pernah jadian, lagipula apa status itu penting? Bukankah yang lebih penting adalah perasaan? Kami tidak perlu pacaran untuk menunjukkan kasih sayang kami dan aku nyaman-nyaman saja selama ini dengan hubungan tanpa status kami. Tapi kenapa sekarang aku merasa kehilangan? Haha lucu sekali kehilangan orang yang bahkan belum pernah kita miliki atau bahkan tidak akan pernah kita miliki.
*
Aku menatap nanar handphone di genggamanku. Masih terpampang jelas pesan dari Iqbaal yang mengatakan mulai dari sekarang ia tidak bisa lagi mengantar jemputku karna mulai sekarang dan untuk beberapa waktu yang akan datang ia kan pulang dan pergi bersama Steffi. Apa sekarang Iqbaal sesibuk itu hingga tidak ada waktu untuk menjemputku? Lagipula dari kecil kami memang selalu pergi kemanapun bersama. Kenapa rasa kehilangan ini semakin menjadi-jadi sih.
Aku menatap jam bermotif hello kitty yang melingkar indah dipergelangan tanganku. Pagi ini aku akan berangkat bersama Bastian, sebenarnya aku sudah menolak tapi Bastian tetap saja memaksa. Aku yang merasa tidak enakpun akhirnya manut saja. Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat didepanku. Tak berapa lama si empunya mobil keluar, Bastian Derian Xavier. Kini Bastian sudah ada dihadapanku dengan senyum manisnya.
“Pagi Christabella Vanessa.”
Aku memaksakan diriku sendiri untuk tersenyum”Pagi Bas.”
“Berangkat sekarang yuk.”ajaknya yang hanya ku angguki
Bastian membukakan pintu mobilnya untukku dan aku pun membalasnya dengan ucapan”Terima kasih.”
*
Ntah ini kebetulan atau memang sudah takdir yang sudah digariskan Tuhan. Iqbaal dan Steffi datang bersamaan tepat dengan kami. Aku menghela nafas berat, lagi-lagi kau harus dihadapkan pada rasa sakit hanya dengan melihat mereka bersama. Bastian menyadarkan ku dari angan-anganku sendiri.
“Kenapa sih Bel?”Tanya Bastian penasaran
Aku menggeleng kuat”Gak kok, gue gak papa.”
Bastian Nampak tidak percaya dengan jawabanku tapi ia memilih mengangguk saja lantas menggandengku menuju kelas. Aku sedikit tersentak mendapati ulah Bastian. Mataku tertuju pada Iqbaal dan Steffi yang berdiri tak jauh dari kami. Iqbaal buru-buru mengalihkan pandangannya begitu mata kami bertemu beberapa detik. Iqbaal kenapa sih? Apa aku punya salah sampai dia tak mau menatapku seperti itu? Aku tersentak mendapati tangan yang mendarat di dahiku. Bastian, dia menatapku khawatir.
“Lo sakit?”Tanyanya perhatian
“Gak kok Bas.”
“Tapi dari tadi lo ngelamun terus.”
“Beneran Bas.”ujarku meyakinkan
Dia menghela nafas sebentar lalu kembali menggandengku dan menuntun ku ke kelas.
*
Aku terus mengaduk bakso didepanku tanpa minat. Sepertinya aku harus mengakui kalau. . . . aku merindukan Iqbaal. Yah aku merindukannya!
Iqbaal sekarang sepertinya menjauhiku. Bahkan setiap berpapasan denganku ia selalu menghindar. Ia juga tak pernah menghubungiku sejak 3 hari yang lalu. Aku membanting sendok dan garpuku ke atas mangkok baksoku. Dan aksiku itu membuat Shalsa dan Bastian yang sedang makan tersentak dan menatapku aneh.
“Kenapa sih Bel?”Tanya Shalsa yang diangguki Bastian
“Gak papa, gue Cuma mau ke toilet kok.”ujarku langsung pergi tanpa memperdulikan tanggapan dari Shalsa dan Bastian.
Aku berjalan gontai menuju toilet, aku ingin membasuh mukaku dan berharap kekesalanku dan kegelisahanku akan Iqbaal akan sirna. Langkahku terhenti  mendapati Iqbaal dan Steffi yang tengah berbicara serius nampaknya di taman belakang. Ntah dorongan dari mana, aku memberanikan diri untuk mendekat, jujur aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan dan aku putuskan batal ke toilet. Aku berdiri dibalik pohon yang kurasa aman untuk menguping obrolan mereka berdua. Aku menjamkan pendengaranku agar mendengar omongan mereka.
“Aku suka kamu Baal.”ujar Steffi
Nafasku tercekat, dadaku tiba-tiba terasa sesak. Steffi menyukai Iqbaal? Oh God help me! Aku kembali menajamkan pendengaranku, aku penasaran apa yang akan Iqbaal katakan. Dan tentu saja aku berharap Iqbaal berkata tidak.
“Lo serius Stef?”Tanya Iqbaal memastikan
“Aku serius Baal, aku cinta sama kamu dari pertama kali kita ketemu.”jawaban Steffi  membuat hatiku semakin sakit. Ntahlah aku merasa tidak terima, tapi apa hak ku?
Hening, kini suasana sedang hening nampaknya. Tak ada yang angkat bicara, pasti sekarang Steffi sedang gelisah menunggu jawaban dari Iqbaal. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku, ah pasti Iqbaal juga suka dengan Steffi. Mana ada cowok yang nolak Steffi yang sempurna itu. Oke Bella mulai sekarang loe harus terbiasa hidup tanpa Iqbaal. Yah meskipun berat rasanya, tapi aku yakin lama kelamaan aku akan terbiasa.
*
“Ada apa Bas?”tanyaku pada Bastian yang tengah asyik nongkrong di ruang tamu rumahku
Bastian menatapku denganwajah serius”Gue mau ngomong penting sama loe.”
Aku menautkan alisku lantas duduk disampingnya, aku penasaran apa yang akan ia katakan.
“Mau ngomong apa?”
Bastian mengeluarkan karangan bunga yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik punggungnya. Karangan bunga mawar merah yang sangat cantik.
“Gue cinta sama loe Bel.”ujarnya singkat yang membuatku menaganga tak percaya
“Loe serius?”tanyaku tak percaya
Bastian mengangguk yakin”Dari waktu pertama kali kita ketemu gue udah suka sama loe Bel, tapi gue sama sekali gak punya kesempatan buat deketin loe karna loe selalu bareng sama Iqbaal.”
Aku menatap Bastian gusar. Haruskah aku menerimanya? Tapi hatiku ini untuk Iqbaal bukan untuk Bastian. Mungkin jika aku menerima Bastian aku akan bisa melupakan Iqbaal  seiring waktu. Yah semoga saja, mungkin memang ini yang terbaik untuk kami lagipula Iqbaal sudah bahagia bersama Steffi.
“Gimana Bel?”Tanya Bastian”Lo mau gak jadi cewek gue?”
“Gue mau Bas.”
*
Aku tengah menunggu Bastian yang masih diruang guru karna ada urusan dengan Pak Yono. Aku duduk sendirian di samping tempat parkir sambil memainkan handphone layar sentuh milikku.
“Ehem.”
Aku mengangakat wajahku, pasti Bastian. Oke aku salah besar ternyata yang bukan Bastian tapi IQBAAL! Aku benar-benar merasa canggung sekarang karna belakangan ini kita tidak pernah berbcara, bertegur sapaun tidak bahkan tiap bertemu kami selalu menghindar.
“Kenapa Baal?”tanyaku mencoba bersikap biasa asaja
“Selamat ya katanya lo baru jadian sama Bastian.”ujarnya dengan wajah datar
Aku memaksakan diri untuk tersenyum”Makasih, selamat juga buat lo yang jadian sama Steffi.”
Iqbaal mentapku bingung”Gue gak pernah jadian sama Steffi, dia emang pernah nembak gue tapi gue tolak.”
Aku melongo tak percaya”A ap pa?”
“Iya, gue gak mungkin nerima dia karna dihati gue udah ada cewek lain.”
“Siapa?”tanyaku lirih, baru saja aku merasa senang karna ternyata Iqbaal dan Steffi tidak pacaran. Tapi sekarang?
“Loe.”
*
Aku menatap gundah gugusan bintang yang begitu indah malam ini. Aku menghela nafas berat berulang kali, aku harus bagaimana sekarang? Aku tidak mungkin tega memutuskan Bastian yang sudah baik padaku. Tapi, aku juga tidak mungkin membohongi perasaanku kalau hatiku ini berpihak pada Iqbaal. Aku berjalan gontai memasuki kamar saat mendengar hpku bordering Iqbaal? Ada apa hingga ia menelponku malam-malam? Aku menekan tombol hijau dihpku “Halo Baal, ada apa?”
“Gue tunggu ditempat favorit kita, SEKARANG!”
Tut tut tut, sambungan telepon dimatikan sepihak oleh Iqbaal. Aku menghela nafas sejenak sebelum akhirnya mengambil jaket dilemari. Setelah mengenakan jaket, aku turun menuju teras dan segera mengendarai mobilku menuju tempat yang dimaksud Iqbaal.
*
Aku berjalan terburu-buru menuju tempat yang dimaksud Iqbaal, jujur saja aku agak takut karna tempat ini sangat sepi apalagi malam sudah semakin larut. Tidak ada yang tau tempat ini selain kami berdua karan tempat tertutup oleh semak-semak yang tinggi hingga tidak ada satu orangpun menyangka bahwa dibalik semak liar ini terdapat sebuah danau yang indah. Dan di samping danau tersebut ada sebuah pohon besar yang kami manfaatkan untuk membangun rumah pohon. Aku sedikit bernafas lega karna telah sampai dan aku bisa melihat Iqbaal yang tengah duduk diayunan. Aku berjalan menghampirinya dan ikut duduk di ayunan yang memang kami membuatnya dua khusus untuk kami.
“Ada apa?”tanyaku to the point
“Gue Cuma mau Tanya gimana perasaan lo ke gue?”
Iqbaal memang sudah menanyakannya tadi tapi sebelum sempat aku menjawab Bastian sudah keburu datang.
“Gue juga cinta sama lo Baal.”
Iqbaal menatapku tak percaya”Serius? berarti kita bias jadian dong?”
Aku menggeleng,. Wajah Iqbaal yang tadinya berseri langsung redup seketika.
“Kenapa?”tanyanya lirih
“Gue gak mungkin tega mutusin Bastian yang udah baik banget sama gue.”
“Tapi gimana sama perasaan lo sendiri? Lo gak mungkin terus-terusan ngasih cinta palsu lo ke Bastian.”
Aku tersenyum  miring”Terus gue harus gimana? Gue gak punya pilihan lain. Selama ini gue udah nunggu lo nembak gue Baal tapi lo gak juga nembak gue, gue capek nunggu hal yang gak pasti.”
Iqbaal terdiam
“Gue capek terus-terusan ngejalanin hubungan tanpa status kayak gini Baal. Dibilang Cuma sahabatan tapi kita udah kaya orang pacaran. Dibilang pacaran juga gak bisa karna lo gak juga nembak gue.”
“Maafin gue yang terlalu pengecut, gue gak berani nembak lo karna gue takut lo gak punya persaan yang sama kayak gue dan hubungna persahabatn kita pecah Cuma gara-gara perasaan gue.”

“Udahlah Baal gak ada yang perlu disesali mungkin emang baiknya kita kaya gini aja.”
“Gue bakal nungguin lo sampe kapanpun Bel, sampai akhirnya kita bisa bersatu dan gue bakal sabar nunggu hari itu tiba.”
Air mataku meluncur begitu saja, maafin aku Baal tapi menurutku ini yang terbaik buat kita.
“Kita tetep bersahabat kok tapi mungkin gak bisa sedekat dulu lagi karna sekarang gue pacarnya Bastian.”ujarku yang kemudian menghapus kasar air mataku
Iqbaal menatapku lekat”I love you so much Bel.”
Aku bangkit dari ayunan yang sedari tadi kududuki”Gak ada yang perlu diomongin lagi kan? Gue Balik ya.”
Aku berjalan beberapa langkah kedepan sebelum akhirnya berhenti dan menoleh ke belakang. Iqbaal tengah tertunduk sambil mengacak rambutnya frustasi. Air mataku kembali melelah. I love you too Baal, maaf udah nyakitin kamu tapi ini yang terbaik buat kita. Aku kembali melangkahkan kakiku dan semakin menjauh dari Iqbaal dan aku bisa merasakan air mataku yang semakin deras. Langkah gontaiku akhirnya membawaku sampai dimobil. Penyesalan memang selalu datang terlambat bukan? Mungkin semenjak sekarang kami memang harus belajar untuk saling menungkapakn apa yang kami rasa. Semoga kamu nepatin janji kamu Baal buat nungguin aku smapai kapanpun. Aku juga akan bersabar sampai takdir yang membawaku kembali ke kamu.

TAMAT



0 komentar:

Poskan Komentar