Hello..... Welcome to my blog :D I hope you enjoy here :) this blog specially for SoniQ, Always BD, Siwonest, Zaynster and Shivers :). Thank you for visiting and don’t forget to leave your comment guys :D Kembali (Iqbaal Steffi Story) | Lollypop Love

Selasa, 10 Desember 2013

Kembali (Iqbaal Steffi Story)

KEMBALI
“Tungguin aku ya, aku pasti balik kok.”
Pemuda tampan itu menatap dalam gadis didepannya yang tengah menunduk. Jemari gadis tersebut digenggam erat oleh sang pemuda seolah meyakinkan gadis tersebut akan ucapannya.
Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap mata teduh dari pemuda didepannya“Janji ya, bakal sering hubungin aku?”
Pemuda bernama lengkap Iqbaal Aresta Putra itu mengangguk yakin”Pasti, jaga hati kamu buat aku ya.”
Gadis itu menangguk”I love you Baal.”ujarnya malu-malu
Iqbaal tersenyum lebar, ia merengkuh gadis itu untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi”Love you too, Steffi.”
Iqbaal melepas pelukannya begitu mendengar panggilan bahwa pesawat akan segera berangkat. Ia mengambil tas-tasnya dan mulai berjalan meninggalkan Steffi. Sebelum Iqbaal benar-benar menghilang ia melambaikan tangannnya sebentar ke Steffi. Steffi membalas lambaian tangan Iqbaal sampai Iqbaal menghilang dalam kerumunana orang-orang.
“Cepet balik ya Baal, aku bakal kangen banget sama kamu.”
*
“Jadi pacar gue ya Stef, please.”
Pemuda berambut ikal ini berlutut didepan gadis yang masih terbengong tak percaya akan ucapan sahabatnya selama 2 tahun belakangan ini. Pemuda berambut ikal ini meraih jemari tangan gadis didepannya kemudian menggenggamnya erat. Pemuda bernama Bastian ini mengeluarkan rangkaian bunga mawar dari balik punggungnya.
“Lo gak lagi bercanda kan Bas?”Tanya gadis dengan rambut yang dikuncir kuda ini shock
“Gue serius, gue bener-bener cinta sama lo Stefhanie Conchita Jasmine.”
Steffi menunduk, ia benar-benar bingung sekarang. Bastian yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri kini tiba-tiba menyatakan perasaannya. Lalu bagaimana dengan Iqbaal? pacarnya yang kini berada di Perancis untuk bersekolah. Iqbaal sudah 3 tahun disana dan selama itu pula hubungan mereka menggantung. Iqbaal sama sekali tidak pernah menghubungi Steffi. Steffi sendiri bingung, apa mereka masih bisa dibilang pacaran?
Bastian menatap Steffi yang sedari tadi diam”Apa jawaban lo Stef?”
“Kasih gue waktu buat mikir.”
*
“Ini foto siapa Sayang?”
Bastian menunjukkan foto Steffi bersama seorang pemuda saat masih SMP dulu. Difoto itu sang pemuda tengah mengenakan baju basketnya sambil memamerkan piala yang didapatkannya sementara Steffi merangkul pemuda disampingnya.
Steffi membelalak, bagaimana bisa ia ceroboh menaruh foto Iqbaal disembarang tempat. Steffi kebingungan mencari alasan”Ngg itu….”
Bastian mengernyitkan dahinya menatap tingkah aneh Steffi”Kok kamu kaya panic gitu sih Yang?”
“Gak kok siapa yang panik, itu dia itu temen aku waktu SMP.”
Steffi tersenyum mencoba meyakinkan Bastian atas jawabannya. Bastian masih nampak tak percaya namun ia memutuskan untuk mengangguk saja.
Bastian mengamati foto dengan bingkai warna putih yang kini ada digenggamannya“Tapi kayaknya kalian lebih dari temen deh, abis fotonya mesra banget.”
“Kamu gak percaya sama aku?”Steffi bertanya sambil menatap Bastian serius sementara tangannya menggenggam lengan Bastian erat
Bastian tersenyum lantas mengelus pipi Steffi dengan ibu jarinya“Percaya kok Yang.”
*
Pemuda tampan ini tampak berjalan keluar dari airport sambil menyeret koper besarnya. Tubuh tinggi dan tegapnya ia balut dengan celana jeans panjang dan jaket hitam yang membuat pemuda ini terlihat keren. Ia membuka kaca mata hitam yang digunakan untuk menutupi mata indahnya, mata teduhnya mengelilingi seluruh penjuru airport. 4 tahun telah berlaru dan kini ia bisa kembali lagi ke tanah kelahirannya.
Ia buru-buru mencegat taksi. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera menemui orang yang begitu spesial baginya. Bertahun-tahun tidak bertemu tentu saja membuat pemuda ini harus memendam rasa kangen yang luar biasa.
Pemuda tampan ini menatap ke luar jendela taksi. Bibirnya membentuk simpul begitu mengingat gadis yang begitu special baginya.
“Aku pulang Stef, aku kangen banget sama kamu.”
*
Ting tong
Pintu kayu dengan ukiran yang begitu rumit itu terbuka. Pemuda dengan rambut ikal tersebut tampak menyumbul dari balik pintu.
“Cari siapa ya?”tanyanya
“Steffi ada?”
Bastian mengerutkan keningnya”Lo siapa?”
Bastian kini menatap pemuda itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Pemuda didepannya itu kini membuka kacamata hitamnya”Gue Iqbaal, pac…”
“Siapa Yang yang dateng?”
Steffi tengah berjalan menghampiri Bastian. Ia sedari tadi sibuk didapur membuat kue bersama Bastian. Bahkan kini ia masih mengenakan clemek.
“Steffi”panggil Iqbaal keras, senyum Iqbaal melebar begitu melihat Steffi keluar
Steffi mengangkat wajahnya. Matanya membelalak saat itu juga. Langkahnya mematung begitu saja. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.
Iqbaal langsung menerobos pintu melewati Bastian. Iqbaal merengkuh erat Steffi saat itu juga. Ia menumpahkan rasa kangennya pada Steffi dengan pelukan yang begitu erat.
“Aku kangen kamu Stef, kangen banget.”
Steffi benar-benar membatu ditempatnya. Ia hanya diam tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Bastian terus menatap Iqbaal dan Steffi dari pintu. Ia tak tau harus berbuat apa dan Bastian lebih memilih diam.
“Itukan cowok yang ada difoto bareng Steffi.”batin Bastian begitu ingat kalu wajah pemuda ini sangat mirip dengan pemuda yang ada difoto yang ia temukan tempo hari lalu.
Iqbaal melepas pelukannya, ia menatap Steffi yang hanya diam.
“Kamu gak kangen ya Stef sama aku? Kok dari tadi kamu diem aja?”tersirat kekecewaan dari pertanyaan Iqbaal barusan
Bastian berjalan menghampiri Iqbaal dan Steffi”Lo temennya Steffi waktu SMP kan?”Tanya Bastian
Iqbaal menautkan alisnya, ia merasa asing dengan asing dengan pemuda didepannya ini. Ia sendiri bingung kenapa pemuda ini ada dirumah Steffi.
“Gue Bastian.”bastian mengulurkan tangannya”Pacarnya Steffi.”
Kini giliran Iqbaal yang membatu ditempatnya. Mata teduhnya menatap Steffi penuh Tanya namun gadis itu kini hanya menunduk.
Iqbaal membalas uluran tangan Bastian”Gue Iqbaal.”
Bastian tersenyum”Lo dari mana kok bawa koper kaya gitu?”
“Gue baru pulang dari perancis.”jawab Iqbaal tanpa minat, ntahlah perasaanya benar-benar campur aduk sekarang. Ini terlalu mengangetkan dan MENYAKITKAN!
“Lo sekolah disana?”
Iqbaal hanya mengangguk, niatnya ingin memberikan kejutan pada Steffi gagal. Justru ia yang kini dapat kejutan dari Steffi. Kejutan yang meluluh lantakkan hatinya saat ini juga.
“Gue balik dulu ya.”pamit Iqbaal sambil memaksakan diri untuk tersenyum
“Kok buru-buru?”Tanya Bastian dengan dahi berkerut
“Iya, kapan-kapan gue main kesini lagi kok.”Iqbaal kembali memaksakan dirinya untuk tersenyum
Iqbaal kini menatp Steffi yang terus menunduk”Gue pamit ya Stef.”
Steffi mengangguk, namapaknya Steffi sama sekali tidak mau menatap Iqbaal sekarang.
Iqbaal menghela nafasnya sejenak, ia berjalan keluar dari rumah Steffi dengan perasaan kecewa. Ia sama sekali tidak menyangka Steffi kini telah memliki pacar dan melupakannya. Mungkin ini memang salahnya menghilang begitu saja dari kehidupan Steffi selama bertahun-tahun.
“Maafin aku baal.”batin Steffi yang kini sudah mengangkat wajahnya. Mata Steffi terus menatap punggung Iqbaal yang makin menjauh
*
Steffi menatap gusar pintu didepannya. Ia benar-benat ragu sekarang. Apakan ia harus masuk atau kembali pulang ? Steffi menghela nafasnya berklai-kali kemudian meyakinkan dirinya sendiri untuk mengetuk pintu didepannya.
Steffi bisa mendengar derap langkah kaki yang mendekat dan benar saja tak berapa lama pintu terbuka. Sesosok pemuda dengan kaos oblong biru tua dan celana jeans pendeknya menyembul dari balik pintu. Mata indah Steffi bertemu dengan mata teduh pemuda tersebut. Tatapan pemuda itu beralih menjadi tajam begitu melihat Steffi kini didepan rumahnya.
“Hai Baal.”sapa Steffi kikuk sambil menggaruk tengkuknya
“Mau ngapain lo kesini?”Tanya Iqbaal dingin
“Aku mau jelasin semuanya.”jawab Steffi”Aku boleh masuk?”
Iqbaal mengalihkan pandangannya kearah lain”Gak ada lagi yang perlu diomongin, semuanya udah jelas. Gue sadar ini emang salah gue seharusnya gue berusaha buat hubungin lo biar lo gak selingkuh sama cowok lain, tapi ini bukan kemauan gue, gue tinggal diasrama dan gak boleh bawa HP.”
“Baal aku…”
“Mending lo pergi gue sibuk.”
Iqbaal buru-buru menutup pintu rumahnya. Steffi dengan sigap langsung berusaha menghalanginya. Steffi mendorong pintunya sekuat tenaga agar pintu tidak tertutup. Begitupun Iqbaal ia juga berusaha sekuat tenaga untuk menutup pintunya.
Brakkkk
Pintu tertutup dengan keras membuat tubuh Steffi terpental jatuh. Steffi yang tak tau lagi bagaimana harus berbiacara pada Iqbaalpun pura-pura pingsan berharap Iqbaal mau menolongnya dan ia bisa menjelaskan semuanya.
*
Steffi kini tengah berbaring dikamar Iqbaal. Iqbaal kini tengah keluar kamar, mungkin mencari sesuatu. Steffi membuka matanya, ia tau Iqbaal akan bertambah marah kalau tau bahwa Steffi hanya pura-pura pingsan. Steffi tidak peduli, Steffi yakin Iqbaal masih sangat mencintainya. Buktinya tadi iqbaal sangat panik waktu tau Steffi pingsan dan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa Iqbaal masih peduli dengannya. Steffi buru-buru menutup matanya begitu pintu terbuka.
Iqbaal melangkah menghampiri Steffi yang masih PURA-PURA PINGSAN. Ia membawa minyak kayu putih dan segelas air putih ditangannya. Iqbaal mendekatkan minyak kayu putih yang dibawanya dengan hidung Steffi agar Steffi segera siuman.
“Sadar dong Stef, jangan bikin akau khawatir kaya gini.”pinta Iqbaal
Steffi membuka perlahan matanya, sepertinya ini sudah saatnya untuk sadar. Steffi langsung bangun dari posisinya yang tidur. Iqbaal langsung panik melihat Steffi yang kini memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan. Tidak, Steffi tidak sedang berbohong sekarang. Steffi memang memiliki tekanan darah rendah sehingga bangun dengan tiba-tiba akan membuat kepalanya pusing.
“Pusing ya Stef?”
Steffi hanya mengangguk sambil memijat pelan keningnya.
Iqbaal mengulurkan tangannya membantu Steffi memijat keningnya. Dan seperti sulap sakit dikepala Steffi langsung hilang saat itu juga. Mungkin itu yang namanya kekuatan cinta.
“Minum dulu Stef.”
Dengan telaten Iqbaal membantu Steffi minum. Setelah membantu Steffi minum, Iqbaal berniat membantu Steffi untuk berbaring lagi namun Steffi menolaknya.
“Aku mau ngomong sama kamu Baal.”
“Nanti aja Stef, kamu tuh masih sakit.”
Steffi menggelang”Aku udah gak papa kok.”
“Baal please maafin aku, aku tau aku jahat karna pacaran sama cowok lain sementara kita belum putus. Tapi aku bener-bener bingung saat itu kita bener-bener hilang kontak sementara Bastian orang yang selalu nemenin aku semenjak kamu pergi tiba-tiba nembak aku. Aku gak mau nyakitin Bastian, Bastian udah baik banget sama aku. Dan sekarang aku malah nyakitin kamu.”
Iqbaal menghela nafas sejenak”Aku juga salah Stef,  aku udah gantungin kamu dengan hubungan gak jelas. Tapi itu bukan kemauan aku. Dan sampai sekarangpun hati ini masih buat kamu.”
Steffi menunduk, ia memilih diam sambil terus menatap segelas air putih yang ada ditangannya.
“Aku pengen kita kaya dulu lagi Stef.”
Iqbaal menatap dalam Steffi yang masih menunduk. Steffi mengangkat wajahnya, menatap Iqbaal yang kini dengan wajah seriusnya.
Steffi menghela nafas sejenak”Bastian?”
“Kamu gak boleh terus-terusan ngasih cinta palsu ke dia, dia bakal lebih sakit hati lagi kalau tau ini nanti.”
“Tapi..”
“Kamu pilih aku apa dia sih?”
“Baal aku…”
Steffi tak melanjutkan omongannya. Ia diam sejenak lalu mencium pipi Iqbaal kilat. Iqbaal tersenyum kecil.
“Aku tau kalau kamu pasti lebih milih aku.”ujar Iqbaal dengan senyum bahagia
Iqbaal meraih tangan Steffi yang sedari tadi masih menggenggam gelas”Kamu harus ngomong masalah ini secepatnya ke Bastian.”
*
“Pokoknya Iqbaal mau sekolah disini, Iqbaal gak mau balaik lagi ke Perancis TITIK!”
Pria paruh baya dengan kaya mata minus tebalnya itu terlihat membenarkan letak kacamatanya yang sedikit turun. Kini ia menatap anak semata wayangnya itu serius.
“Kamu gak boleh  ngambil keputusan sepihak gitu dong Baal, bukannya kamu dari dulu udah setuju kita sekeluarga bakal menetap di Perancis.”
“Iya tapi itu kan dulu Pa, sekarang Iqbaal maunya disini.”
“Terus kalau kamu tinggal disini sama siapa? kamu gak papa sendirian di Jakarta?”
Kini Mama iqbaal yang angkat bicara
“Iqbaal kan cowok Ma, Iqbaal bisa jaga diri kok.”
“Gak bisa pokoknya kamu harus ikut ke Perancis, lagipula rumah ini juga mau Papa jual kok.”kata Papa Iqbaal tegas
Pemuda ini menatap Papanya dengan muka memelas“Tapi Iqbaal gak bisa pisah sama Steffi Pa, sekali aja ngertiin Iqbaal.”
Papa Iqbaal menggeleng mantap. Kini pandangan memohon Iqbaal beralih ke Mamanya.
“Kalau Papa bilang gak itu artinya enggak sayang.”
Iqbaal bangkit dari sofa yang didudukinya”Kalo Papa sama Mama gak ngijinin Iqbaal buat tinggal disini Iqbaal bakal terus ngurung diri dikamar dan gak akan mau makan.”
Dengan langkah lebar Iqbaal menaiki tangga rumahnya yang terhubung dengan ruang tamu. Dan bebrapa saat kemudian terdengar bunyi pintu yang ditutup dengan keras, pintu kamar Iqbaal.
*
“Gimana kamu udah putusin Bastian kan?”Tanya Iqbaal begitu melihat Steffi duduk disampingnya
Hari ini Iqbaal mengajak Steffi ketemuan ditempat favorit mereka semasa mereka pacaran dulu. Steffi tampak lesu saat itu. penampilannya juga berantakan. Sepertinya ia tengah stress sekarang, ntah memikirkan apa.
Iqbaal menatap gadis didepannya ini cemas. Ia mengulurkan tangannya kedahi Steffi, memriksa apa Steffi sedang demam sekarang.
“Kamu sakit Stef?”
Steffi menggeleng lemah
“Terus kamu kenapa?”
Steffi tidak menjawab. Kini ia menunduk sambil menghela nafas berkali-kali.
“Kamu marah sama aku ya? Gara-gara 2 hari ini aku ngilang?”
Steffi masih diam kini ia memainkan ujung flat shoes miliknya.
“Aku minta maaf ya, aku ngurung diri aku dikamar selama dua hari biar orang tua aku ngijinin aku tinggal disini dan sekolah disini. Dan ternyata aksi ngambek aku gak sia-sia karna akhirnya orang tua aku setuju. Aku seneng banget, kamu seneng juga kan?”
Iqbaal menatap Steffi antusias. Gadis itu masih enggan menatapnya.
“Kamu gak seneng ya aku tinggal disini?”Tanya Iqbaal lirih, kini mukanya tampak sangat kecewa
Steffi mengangkat wajahnya, ia memegang pundak iqbaal lalu berkata”Mending kamu balik ke Perancis sama orang tua kamu Baal.”
Iqbaal tercengang akan ucapan Steffi barusan. Ia berkali-kali memastikan bahwa apa yang didengarnya barusan tidak salah.
“Ka-kamu ken-apa sih Stef?”Tanya Iqbaal terbata
Gadis disampingnya ini senang sekali membuatnya kaget. Gadis ini benar-benar penuh dengan kejutan dan sulit ditebak.
“Maafin aku Baal, tapi aku gak bisa mutusin Bastian.”
Iqbaal kembali dibuat tercengang dengan ucapan Steffi. Ada apa dengan gadisnya ini?
“Tapi kamu bilang kamu cinta sama aku.”
“Iya , aku memang cinta sama kamu. Cinta banget. Tapi aku gak tega mutusin Bastian Baal, dia lagi bener-bener sedih karna orang tuanya yang cerai dan perusahaan papanya yang bangkrut. Sekarang Bastian jatuh miskin. Dan karna perusahaan papanya yang gulung tikar itu mama Bastian minta cerai. Bastian bener-bener rapuh sekarang Baal dan aku mana mungkin tega mutusin dia disaat dia bener-bener ngebutuhin aku sekarang.”jelas Steffi
Tiba-tiba Steffi terngiang ucapan Bastian semalam.
“Kamu satu-satunya yang bikin aku kuat sekarang Stef, aku gak bisa bayangin gimana jadinya aku tanpa kamu. Aku pasti bener-bener hancur kalau kamu sampe ninggalin aku. Jangan pernah tinggalain aku ya Stef?”
Steffi kini menggenggam erat tangan Iqbaal”Kamu punya segalanya Baal, kamu ganteng, baik, kaya, pinter lagi. Pasti cewek diluar sana banyak banget yang suka sama kamu. Kamu harus buka hati kamu buat orang lain dan lupain aku.”
Iqbaal menggelengkan kepalanya”Gak Stef, aku gak mau. Aku maunya kamu TITIK!”
“Baal please kali ini aja kamu ngalah.”
Steffi menatap Iqbaal dengan wajah memelasnya.
“Kamu kenapa sih Stef, dengan kamu terus-terusan pacaran sama Bastian. Kamu itu makin nyakitin hati kamu sendiri bahkan nyakitin aku. Dan kamu tahu kalau Bastian nanti sampai tahu tentang perasaan kamu yang sebenarnya dia bakal lebih sakit hati lagi. Kamu gak mau kan nyakitin hati banyak orang termasuk hati kamu sendiri?”
Setetes air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mata Steffi. Disusul dengan tetesan kedua ketiga dan seterusnya. Bahkan mulai terdengar isakan-isakan kecil dari bibir Steffi.
Iqbaal panik begitu melihat Steffi menangis. Egonya untuk memepertahankan Steffi luntur saat itu juga. Iqbaal merengkuh Steffi, membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.
“Kalau itu emang keputusan kamu, aku terima kok Stef.”ujar Iqbaal sambil membelai rambut panjang Steffi
Bukannya makin reda, tangis Steffi malah makin kencang.
“Ma-maafin hiks aku Baal, aku udah ja-hat hiks sa-ma kamu.”
Steffi berkata dengan terbata disertai isakan tangis yang sesekali keluar dari mulutnya
“Kamu gak jahat kok sama aku, dari awal ini emang salah aku. Seharusnya aku gak pergi ke Perancis biar masalahnya jadi gak serumit ini.”
Steffi melepaskan dirinya dari peluakn Iqbaal”Maaf ya Baal, tapi keputusan aku udah bulat. Aku milih Bastian.”
Iqbaal tersenyum hambar”Aku terima keputusan kamu, aku yakin kalau kita emang ditakdirin buat bersama kita bakal bersatu nanti dengan cara yang indah.”
Steffi tersenyum simpul”Makasih udah ngertiin aku, semoga Tuhan menakdirkan kita bersama nantinya.”
“Amin.”

TAMAT

0 komentar:

Poskan Komentar