Hello..... Welcome to my blog :D I hope you enjoy here :) this blog specially for SoniQ, Always BD, Siwonest, Zaynster and Shivers :). Thank you for visiting and don’t forget to leave your comment guys :D GADIS PAYUNG ( CERPEN ) | Lollypop Love

Jumat, 01 Februari 2013

GADIS PAYUNG ( CERPEN )

Gadis Payung

Ku tapakkan kaki ini selangkah demi selangkah di atas tanah yang becek. Hujan baru saja turun dan kini menyisakan rintik rintik hujan yang lumayan membuat tubuhku gemetar kedinginan. Aku terus saja melangkah tanpa memperdulikan rasa dingin yang menusuk di pagi yang mendung ini. Ah sial sekali hari ini sudah terlambat bangun, kehujanan, mobil mogok, dan sekarang harus berjalan menuju sekolah tanpa jaket ataupun payung. Sempat terlintas dalam benakku untuk berteduh sejenak namun kuhapus pikiran itu jauh-jauh karena jam pertama nanti adalah jam pelajaran Pak Raka yang galaknya nggak ketulungan. Fiuh, aku menghela nafas berat saat menyadari jarak sekolah masih lumayan jauh. Aku tersentak mendapati seseorang gadis yang sekarang sudah ada disampingku. Ia tersenyum sangat manis sambil berusaha memayungiku dengan payung yang dibawanya.
“Hai.”sapanya hangat
Aku tersenyum kikuk membalas sapaannya. Jujur senyumannya yang menawan itu membuatku salah tingkah sendiri.
"Kamu murid SMA BHAKTI BANGSA kan?”tanyanya
Aku mengangguk cepat”Iya, emang kenapa?”
Dia tersenyum simpul"Aku murid baru disana, boleh nggak aku berangkat bareng kamu?"
"Bolehlah, kenapa nggak."jawabku senang hati
Aku merebut payung yang di genggamnya. Ia sedikit terlonjak karenanya.
"Biar aku aja yang pegang payungnya."ucapku yang diangguki olehnya
Kami berjalan beriringan dalam diam. Aku merasa canggung karna baru mengenalnya. Lidahku kelu tak sanggup mengatakan apapun. Apalagi ia terus tersenyum menatap ke depan. Menatap tetesan air hujan yang kurasa semakin deras. Perjalanan menuju sekolah yang tadinya lumayan jauh kini tak terasa, mungkin berkatnya. Saat kami akan berpisah di persimpangan karna aku harus segera menuju kelas sementara ia harus ke ruang kepala sekolah terlebih dahulu. Aku menyempatkan diri menanyakan sesuatu yang sedari tadi ingin aku tanyakan.
"Oh iya nama kamu siapa?"
Ia yang tadinya sudah mau melangkah pergi terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Aku Bella Griselda Zavantra, tapi cukup panggil Bella aja."jawabnya seraya mengulurkan tanganya
Aku membalas jabatan tangannya lantas berkata"Aku Iqbaal Raditya Bagus tapi kamu bisa manggil aku Iqbaal."
***
Hari ini, ntah mengapa aku sangat bersemangat untuk pergi bersekolah pagi ini. Mungkin karna akan bertemu Bella. Aku jadi super duper bersemangat pagi ini. Ntahlah ia sudah berhasil menggetarkan hatiku saat pertama kali bertemu dengannya. Saat pertama kali melihatnya dengan payung pink yang begitu menggemaskan, saat melihat senyumnya yang begitu menawan, saat mendengar suaranya yang begitu lembut. Ah ntahlah hanya karna mengingat itu semua aku bisa gila karna terus senyum-senyum sendiri. Aku terus setia berdiri tak jauh dari gerbang. Aku ingin jadi orang yang pertama menyapanya hari ini karna kurasa ia pasti belum mempunyai banyak teman. Ah itu dia, gadis payungku.
"Bella."panggilku dengan keras agar ia bisa mendengarnya
Ia menoleh ke arahku dan kini berjalan menghampiriku.
"Pagi Iqbaal."sapanya begitu sampai dihadapanku
"Pagi juga."
"Ngapain disini? lagi nungguin orang ya?”Tanyanya
"Em lagi nungguin kamu."jawabku jujur sambil menyeringai lebar
Aku bisa melihat pipinya yang mendadak memerah. Dia tampak semakin cantik dengan pipi yang merah seperti itu.
"Emang mau ngapain nungguin aku?”tanyanya
"Ngg."aku menggaruk tengkuknya sambil berfikir mencari jawaban yang tepat"Aku. . . em mau ngajakin kamu sarapan bareng dikantin."
Kufikir itu cara yang tepat agar bisa lebih dekat dengannya.
"Aku udah sarapan kok Baal."
"Yaah."ujarku kecewa
"Tapi kalau kamu mau ditemenin aku mau kok nemenin kamu."lanjutnya
Saat itu juga senyum terlukis di wajahku, senang sekali rasanya mendengar jawabannya. Aku menatapnya dengan mata berbinar lantas berkata”Beneran?"tanyaku memastikan
Ia mengangguk"Iya."sahutnya kemudian
***
Aku terus saja mengutuk hujan yang turun sore ini. Seharusnya sore ini aku berlatih basket bersama teman ekskul basket lainnya tapi karna hujan turun terpaksa latihannya dibatalkan. Sekolah ku memang memiliki lapangan basket indoor tapi masih direnovasi jadi belum bisa digunakan. Huh hujan selalu mengacaukan segalanya, aku benci hujan. Aku menghempaskan tubuhku kasar ke gubuk kecil ini. Aku sangat sering kemari jika aku sedang kesal. Gubuk kecil ini berada diatas bukit yang tak jauh dari sekolah. Aku menatap datar putihnya air hujan yang menutupi segala keindahan yang biasanya bisa kulihat dari atas sini. Huh, hujan memang menyebalkan.
“Kenapa harus ada hujan sih?"kataku sebal dengan suara yang lumayan keras
"Emangnya kenapa kamu nggak suka hujan?"
Terdengar suara lembut dibelakangku yang membuat aku menoleh penasaran. Astaga. . .
"Bella?"pekikku tak percaya
Bella hanya tersenyum simpul lalu duduk disampingku. Matanya menatap lurus ke depan, menatap hujan mungkin.
"Kenapa kamu nggak suka hujan?”tanyanya yang kini beralih menatapku
"Hujan itu nyebelin."jawabku seadanya dengan muka kesal tentunya
"Nyebelin?"ulangnya dengan dahi yang berkerut
Aku mengangguk
"Hujan kan indah Baal, nggak nyebelin sama sekali kok menurut aku."
"Indah apanya sih Bel."seruku"Nih ya aku kasih tau hujan itu bikin becek, bikin orang sakit, bikin orang-orang nggak bisa beraktifitas normal. Pokoknya hujan itu ngacauin segalanya."paparku panjang lebar
"Hujan itu baik Baal, coba kalo nggak ada hujan gimana kita bisa bertahan hidup, tumbuhan sama hewan juga bakal mati."
"Tapi Bel. ."
Ucapanku terhenti saat Bella memegang pundakku, sekarang ia sedang menatapku dengan tatapan yang ah membuatku meleleh saat ini juga.
"Segala sesuatu itu pasti ada baik dan buruknya, nggak ada yang sempurna, karna kesempurnaan cuma milik Tuhan, hujan itu berkah dari Tuhan Baal dan kita nggak boleh ngebenci apa yang Tuhan berikan."
Aku tertegun untuk beberapa saat meresapi omongan Bella barusan. Untuk beberapa saat kami sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku melirik Bella dari ekor mataku. Ia kini sudah kembali menatap hujan sambil terus tersenyum. Berbagai pertanyaan kini muncul diotakku. Pertama, bagaiman ia bisa sampai disini padahal ia baru 3 hari tinggal disini. Kedua, kenapa ia sepertinya sangat menyukai hujan. Ketiga, kenapa senyumnya begitu manis?
Ah kurasa pertanyaanku yang ketiga tak perlu ditanyakan.
"Kamu suka hujan ya?”tanyaku akhirnya
"Banget."jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya kearahku
"Emang kenapa?"tanyaku penasaran, kepo dikit kan boleh
"Suatu saat kamu juga bakal tau."katanya sambil tersenyum misterius
"Oh iya kok kamu bisa sampai sini?” Aku kembali melontarkan pertanyaan
"Kamu lupa ya rumah aku kan nggak jauh dari sini."
"Emang kamu sering kesini?”
"Lebih dari 3 kali."
"Hah?”pekikku tak percaya"Kamu kan baru 3 hari tinggal disini."
"Iya sih, tapi aku suka ngabisin waktu disini."
"Oh."
"Main hujan -hujanan yuk."ajaknya
Aku langsung menolak mentah-mentah"Nggak ah ntar sakit."
"Cemen nih."
Aku yang anti dibilang cemenpun akhirnya mau dan membiarkan menyeretku ke tengah derasnya hujan. Aku memang benci hujan tapi aku akan sangat menyukainya jika ada Bella disampingku.
***
Aku mengelap rambutku yang basah dengan handuk yang melingkar dipundakku. Ini sudah untuk kesekian kalinya aku bermain hujan-hujanan dengan Bella. Rasanya sangat menyenangkan menikmati indahnya hujan bersamanya, melihat senyumnya, dan mendengar tawanya. Dan setiap hari pula rasa cinta dihatiku ini semakin bertambah padanya. Andai saja ia tahu aku telah jatuh cinta padanya saat kita pertama kali bertemu. Tapi. . . . bagaimana kalau ia tidak memiliki rasa apapun padaku? Ah membayangkannya saja sudah sesakit ini apalagi kalau itu benar terjadi. Aku menghempaskan tubuhku ke atas kursi yang ada di samping jendela. Menatap putihnya air hujan. Andai saja hujan bisa menyampaikan rasa cintaku pada Bella. Sebenarnya aku ingin mengatakannya langsung didepan Bella atau bahkan didepan umum seperti di sinetron yang biasa ditonton kakak perempuanku. Ah tapi sayangnya aku terlalu pengecut untuk menyatakannya. Aku takut ditolak, aku takut dia justru akan menjauhiku setelah aku menembaknya. Aku mengacak rambutku kesal. Kenapa cinta harus seribet ini?
***
Aku terus menatap Bella dari kejauhan. Memantaunya yang sedang berbaur dengan siswi yang lain. Bastian benar, Bella adalah orang yang mudah bergaul, walaupun baru sebulan Bella sekolah disini tapi ia sudah mempunyai banyak teman. Hampir seluruh siswa disini mengenalnya. Apalagi para kaum lelaki yang katanya banyak yang menyukainya. Uh mungkin Bastian benar aku harus buru-buru menyatakan perasaanku sebelum ada laki-laki yang berhasil mendapatkannya. Aku harus berfikir keras agar aku bisa menjadi pacar Bella secepat-cepatnya. Besok kalau perlu aku akan menembaknya tanpa mempedulikan apapun resikonya nanti. Yah, aku harus melakukannya.
***
Aku menghirup karangan bunga yang memang sudah kupersiapkan khusus untuk Bella. Aku menghirup nafas sesaat untuk menetralisir rasa gugup yang sedari tadi menggangguku. Setelah kurasa siap, aku mulai melangkahkan kakiku menuju rumah bergaya minimalis tapi memiliki pekarangan yang indah sekali. Sesampainya didepan pintu aku segera mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati itu. Tak berapa lama pembantu Bella membukakan pintu untukku.
"Mas Iqbaal nyari non Bella ya?” Tanya bi minah padaku, Bi Minah ini pembantu Bella, ia mengenalku karna aku memang sering main kesini.
"Iya bi, Bellanya ada?”
"Mas Iqbaal masuk dulu deh, biar nanti bibi jelasin."
Aku yang tidak mengerti maksud omongan bi minah manut saja untuk segera masuk dan duduk.
"Emang Bella kemana sih bi?”tanyaku penasaran
Bi minah tak langsung menjawab. Ia terdiam sambil menatapku sedih, dan itu membuatku semakin penasaran.
"Non Bella udah nggak tinggal disini lagi mas, baru aja non Bella, tuan, sama nyonya pergi ke singapura."
Aku melongo kaget"Ta tapi kenapa bi? Ke kenapa tiba-tiba Bella pindah?”tanyaku terbata-bata
"Non Bella sakit leukimia mas, makanya tuan sama nyonya bawa non Bella pergi kesana buat berobat."
Aku hanya terdiam mendapati kenyataan pahit yang sangat menohok hatiku seperti ini. Tuhan jika ini mimpi, segera bangunkan aku dari mimpi buruk ini. . .
***
Aku membuka amplop surat yang Bella tinggalkan untukku. Kubuka lipatan kertas putih yang berisi deretan kata yang Bella tulis untukku.
Dear Iqbaal

Baal sorry ya aku pergi tanpa pamit. Sebenernya aku nggak mau pergi, aku suka disini, aku punya banyak temen yang baik disini. Tapi aku harus pergi karna penyakit aku udah semakin parah. Aku kena leukimia Baal. Orang tua aku ngotot bawa aku berobat ke Singapore. Aku nggak mau bikin mereka kecewa.
Aku divonis leukimia sejak 2 bulan yang lalu Baal. Sejak saat itu aku udah nggak punya lagi semangat hidup Baal. Aku ngerasa hidup aku percuma. Aku cuma ngehabisin aku buat merenung sama nangis. Tapi itu berubah Baal sejak aku pindah kesini dan kenal kamu. Aku merasa hidup kembali Baal. Aku ngerasa hidup aku lebih berwarna karna ada kamu disamping aku. Kamu tau nggak kenapa aku suka banget sama hujan? Itu karna hujan baik Baal, dia mau nemenin aku nangis, dan dia yang nutupin aku kalo lagi nangis dan hujan yang slalu nemenin aku kalo lagi sendiri. Aku cinta hujan seperti aku cinta kamu Baal. Sebenernya aku malu Baal ngakuin ini. Tapi aku nggak mau terbebani perasaan ini. Aku harap kamu juga punya perasaan sama kayak aku. Aku harap kalau suatu saat kembali lagi kesini, aku bisa ketemu kamu lagi, bisa lihat senyum kamu lagi, dan bisa ada didekat kamu lagi.
Jaga diri kamu baik-baik ya Baal. Aku nggak mau kamu sakit. Aku sayang banget sama kamu Baal. Semoga Tuhan ngijinin kita buat ketemu lagi ya Baal.
With love
Bella
Jika aku bukan laki-laki aku pasti sudah menangis sekarang. Dadaku terasa sangat sesak. Sakit sekali rasanya kehilangan orang yang benar kucintai harus pergi dan menderita penyakit seganas leukimia. Tuhan kenapa disaat aku benar-benar mencintai seseorang aku harus kehilanganya. Aku benar-benar mencintainya Tuhan. Dia hidupku, dia nafasku, dan dia jantungku. Jika aku boleh meminta, aku hanya ingin ia sembuh dan lekas kembali padaku. Hanya itu Tuhan, kabulkanlah doaku.
***
Hujan sudah turun sejak 1 jam yang lalu namun aku masih saja setia bermain sendirian di lapangan basket sekokahku. Aku tak peduli tubuhku yang mulai lelah dan menggigil. Hari ini tepat satu tahun aku bertemu dengan Bella. Aku masih ingat jelas senyumnya, wajahnya, bahkan payung yang selalu dapakainya saat hujan. Rasanya aku sangat merindukannya. Kenapa ia tak kunjung kembali? Apa Bella sudah lupa denganku? Apa dia sudah tidak ingin bertemu denganku lagi? Atau dia sudah. . . Ah tidak aku harus berfikir positif. Aku mulai mendrible bola oranye ditanganku lalu melemparnya sekeras mungkin.
"Bellaaaaa."teriakku frustasi, teriakanku bahkan menggema di seluruh penjuru sekolah karena sekolah sudah sepi
Dug. .
Bola basket yang ku lempar tadi membentur ring dan kini terlempar ntah kemana. Aku terduduk lemas dilapangan. Aku hanya diam membiarkan air hujan mengguyur tubuhku yang menggigil kedinginan. Wajahku pasti sudah sangat pucat saat ini. Aku lelah, aku kedinginan tapi aku tak peduli karena ini caraku menunjukkan rasa sedihku, rasa rinduku pada Bella, dan rasa cintaku yang tak kunjung terbalaskan. Aku tersentak mendapati tangan yang mendarat dipundakku. Aku menoleh kesal pada orang yang telah mengagetiku itu. Aku terbelalak, rasanya jantungku berhenti berdetak dan darahku berhenti mengalir. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali memastikan apa yang aku lihat kini benar dan bukan halusinasiku saja. Setelah memastikan ini nyata aku tersenyum"Bella."ujarku lirih
Bella tersenyum manis. Tuhan senyum itu, aku bisa melihatnya lagi. Aku bisa! Aku bisa!
"Kamu nggak kangen ya sama aku? Kok diem aja sih?”Tanyanya dengan mulut yang dimajukan
Aku pun tersadar dari lamunanku akibat senyumannya dan segera memeluknya. Payung yang dibawanyapun sampai terlepas dari genggamannya karena pelukanku yang begitu erat.
"Aku nggak akan biarin kamu pergi lagi Bel, aku nggak sanggup hidup tanpa kamu."ujarku bersungguh-sungguh
"Aku juga nggak akan ninggalin kamu Baal, hidup aku hampa tanpa kamu."
Aku tersenyum mendengarnya"Kamu udah sembuh kan Bel?"
"Tuhan masih sayang sama aku Baal, Tuhan ngasih kesempatan aku buat hidup lebih lama lagi."
"Aku cinta kamu Bel, I love you so much."
Bella melepaskan pelukannya yang membuatku bingung.
"kenapa? Kamu nggak cinta ya sama aku? Tapi disurat kamu dulu. . . .”
Aku tidak melanjutkan omonganku karena Bella kini meletakkan jari telunjuknya dibibirku.
"Aku juga cinta sama kamu Baal, bahkan yang bikin aku semangat buat sembuh biar cepet balik kesini itu karna kamu Baal, karna kamu."
"Itu artinya kamu mau kan jadi pacar aku?”
Bella mengangguk. Aku langsung melompat dan berteriak kegirangan saking senangnya. Aku kembali memeluknya dan mencium keningnya. Aku memang benci hujan tapi itu dulu sebelum aku bertemu dengan gadis payungku ini. Bella benar hujan itu baik. Karna hujanlah aku dan Bella bertemu dan karna hujanlah kini kita bisa bersatu.


Tamat. . .

1 komentar:

MyBlogger mengatakan...

hai buat yg baru donk kak

Poskan Komentar