Hello..... Welcome to my blog :D I hope you enjoy here :) this blog specially for SoniQ, Always BD, Siwonest, Zaynster and Shivers :). Thank you for visiting and don’t forget to leave your comment guys :D Without You I'm Nothing (Short Story Iqbaal & Steffy) | Lollypop Love

Senin, 19 Agustus 2013

Without You I'm Nothing (Short Story Iqbaal & Steffy)


WITHOUT YOU, I’M NOTHING
Sesosok gadis dengan dress ungu selututnya naik ke atas panggung. Rambutnya ia biarkan tergerai indah dengan hiasan flower crown yang begitu cantik. Semua mata di aula ini menatapnya takjub, penampilan gadis ini benar-benar berbeda dari biasanya. Penampilan kesehariannya yang lebih mirip preman pasar kini berubah drastis. Gadis yang kerap disapa Steffi ini mulai memainkan tuts-tuts grand piano hitam didepannya.
Sulit kukira kehilngannya
Sakit terasa memikirkannya
Hancur warasku
Kau tlah berlalu
Tinggalkan aku begitu
Rapuh hidupku
Remuk jantungku
Ingatan Steffi melayang ke kejadian seminggu yang lalu. Dimana orang yang begitu berarti untuknya pergi meningggalkannya karna kesalahnya sendiri. Setetes air mata jatuh begitu saja di pipi Steffi. Ia menarik nafas sejenak dan mulai melanjutkan lagunya.
Semua salahku tak jaga dirimu
Untuk hatiku sunggguhku tak sanggup
Semua terjadi seperti mimpi
Mimpi burukku kehilanganmu
Bukannya berhenti air mata Steffi malah makin deras menetes. Ia benar-benar menghayati lagu yang dinyanyikannya hingga membuat seluruh orang yang ada diaula sekolah ini ikut terennyuh dengan lagu yang dinyanyikan Steffi.
Karna kamu nyawaku
Karna kamu nafasku
Karna kamu jantungku
Karna kamu rapuh hidupku
Remuk jantungku
Rapuh hidupku
Remuk jantungku
Pemuda yang tengah sibuk mengurusi pensi malam ini terus menatap Steffi dari belakang panggung, ia menatap mantan kekasihnya itu sendu. Ia menghela nafas berat untuk menetralisir rasa sakit dihatinya”Kamu yang bikin aku terpaksa ninggalin kamu Stef.”ujarnya lirih kemudian kembali menyibukkan diri dengan berbagai tugas-tugasnya sebagai ketua panitia pensi malam ini.
*
Riuh tepuk tangan mengakhiri lagu yang dinyanyikan Steffi. Setffi bangkit dari duduknya lantas berjalan ke bagian depan panggunng. Seffi menundukkan kepalanya sebagai ucapan terima kasih . Tak mau berlama-lama Steffi segera turun dari panggung dan berlari ntah kemana, ia tidak mau ada satu orangnpun yang tau kalau ia sedang menangis. Langkah kaki Steffi membawanya ketaman depan sekolahnya. Steffi duduk diatas salah satu bangku semen sambil terisak-isak.
“Lagu kamu bagus.”ujar Seseorang yang kini telah berdiri disamping Steffi
Pemuda tinggi dan tampan itu kini duduk disebelah Steffi lalu mengulurkan sapu tangannya”Udah jangan nangis.”
Steffi melongo, ia mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan kalau yang disampingnya kini benar-benar Iqbaal, mantan kekasihnya.
“Kamu ngapain kesini? Bukannya kamu sibuk, kamu kan ketua OSIS.”ujar Steffi
“Aku gak tega lihat kamu nangis.”
Steffi tersenyum miring”Emang kamu masih peduli sama aku?”
“Aku selalu peduli sama kamu, kamunya aja yang gak pernah nyadar.”
Steffy menunduk”Maaf.”lirih Steffi
Iqbaal menengadahkan kepalanya menatap gugusan bintang yang begitu indah malam itu“Nggak ada yang perlu dimaafin Stef, semua udah terjadi.”
Steffi mengangkat wajahnya, ia menatap Iqbaal yang tengah asyik menatap langit”Aku emang bodoh gak pernah denger omongan kamu, aku emang egois. Seharusnya kamu gak perlu ngebuang waktu 5 tahun kamu Cuma buat pacaran sama cewek kayak aku. Cowok sesempurna kamu gak pantes pacaran sama aku.”
Iqbaal mengalihkan pandangannya kearah Steffi, air mata gadis itu kembali menetes”Jangan ngomong gitu Stef.”
“Emang kenyataanya gitu kan Baal, aku bahkan gak punya temen karna sikap semena-mena dan keegoisan aku. Cuma kamu satu-satunya orang yang betah dengan sikap aku. Semua orang juga heran kenapa kita bisa pacaran. Cowok seganteng kamu, sebaik kamu dan sepinter kamu gak cocok sama aku yang urakan, egois, semaunya sendiri, tukang telat, nilainya selau jelek, tukang bikin ulah dan gak pernah denger omongan kamu padahal omongan kamu juga demi kebaikan aku sendiri. Dan sekarang kau nyesel Baal, nyesel banget. Aku bahkan gak tau apa masih ada kesempatan kedua buat aku.”
Iqbaal terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata”Kamu gak seburuk itu Stef.”
“Kamu gak usah hibur aku, aku sadar diri kok.”ujar Steffi sambil mencoba tersenyum
Ntahlah tapi Iqbaal benar-benar merasa sakit melihat senyum Steffi. Dadanya terasa sesak karna sebentar lagi ia sudah tidak bisa melihat senyum itu lagi.
“Stef.”panggil Iqbaal lirih
“Apa?”
“Aku mau---“Iqbaal menghela nafsnya, rasanya berat sekali mengucapkan selamat tinggal”Pamit.”
Steffi mengerutkan keningnya“Pamit ?”
Iqbaal mengangguk lemah”Aku bakal pindah ke Amrik, aku mau lanjutin sekolah aku disana.”
Steffi menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangisnya yang akan kembali dan Steffi yakin tangisannya akan sangat keras. Sepertinya kebahagiaan benar-benar pergi darinya sekarang.
“Aku bakal berangkat besok dan aku gak tau bakal balik kapan. Dan aku harap kamu jaga diri kamu selama aku gak ada.”
Sekuat tenaga Steffi mencoba tersenyum”Hati-hati ya Baal, kamu juga harus jaga diri kamu disana.”
Iqbaal tersenyum tipis”Masuk lagi yuk Stef, aku mau pamitan sama temen-temen dan guru-guru”
Steffi menggeleng”Aku udah mau pulang”ujar Steffi ia sudah tidak kuat lagi menahan tangisnya. Ia ingin segera pulang dan menangis sepuasnya.
Iqbaal tampak kecewa”Oh yaudah.”
Steffi bangkit dari duduknya”Aku pulang ya.”
“Tunggu.”cegat Iqbaal
Steffi menoleh kembali kerah Iqbaal dan tanpa disangka Iqbaal memeluknya erat, sangat erat. Dengan ragu Steffi membalasnya, ia mencium aroma tubuh Iqbaal sepuasnya. Ia tidak akan merasakan hangatnya pelukan Iqbaal lagi dan ia tidak akan membuang kesempatan ini untuk memeluk Iqbaal sepuasnya.
“Aku gak sanggup Stef ninggalin kamu, tapi aku gak punya pilihan lain.”batin Iqbaal
“Aku gak tau Baal gimana jadinya hidup aku tanpa kamu, aku udah gak punya siapa-siapa lagi.”batin Steffi
*
Steffi menatap nanar fotonya bersama Iqbaal saat masih pacaran dulu. Setetes air matanya jatuh diatas kaca pigora foto tersebut. Ingatan Steffi melayang kekejadian seminggu yang lalu, kejadian kandasnya hubungannya dengan Iqbaal. Kejadian yang benar-benar mengubah hidupnya.
1 minggu yang lalu
Iqbaal menghela nafsnya berkali-kali, ntahlah tapi kali ini ia sudah benar-benar sangat kecewa pada Steffi. Hari ini harusnya menjadi hari yang sangat membahagiakan karna mereka kan merayakan hari jadi mereka yang ke 5 tahun. Iqbaal sudah mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh hari. Ia sudah membooking seluruh café ini untuk acaranya bersamaSteffi bahkan cafe ini didesain seromantis mungkin oleh Iqbaal sendiri supaya Steffi senang.iqbaal memainkan steak dipiringnya tanpa berminat memakannya sedikitpun dan hal itu menarik perhatin Steffi.
“Kok gak dimakan sih Baal?”Tanya Steffi dengan kening yang berkerut”Enak lho steaknya.”
“Gak nafsu.”ujar Iqbaal ketus
“Kamu marah ya sama aku?”
Iqbaal tak menjawab, ia terus menunduk sambil memainkan steaknya.
“Aku minta maaf deh.”
“Nggak perlu.”
“Aku harus gimana biar kamu maafin aku?”
Iqbaal membanting garpu dan pisaunya ke atas piring, kini ia menatap Steffi kecewa”Kamu itu keterlalaun Stef, aku tau kamu tomboy cuek sama penampilan tapi apa kamu gak bisa untuk hari ini aja kamu pakai dress buat aku.”
“Jadi kamu masalahin penampilan aku?”Tanya Steffi”Kamu gak bias nerima aku apa adanya? Iya?”Tanya Steffi sengit
“Aku selalu nurutin apa mau kamu, tapi kamu? Gak pernah tuh sedikitpun mau nurutin aku. Bahkan dihari jadi kita yang ke 5 ini aku Cuma mau kamu dandan buat aku tapi apa kamu malah pake celana jeans sama kaos oblong kaya gitu. Kamu tau gak sih Stef aku mati-matian nyipain ini semua biar hari ini aja kita bisa romatis-romantisan tapi kamu ngehancurin semuanya. Bahkan aku ajak dansa aja gak mau.”
“Aku kan gak bias dan----“
“Alah aku bisa kok ajarin kamu, emang kamu aja yang egois gak mau sedikitpun  nyenegin aku.”
“Kamu selalu nuntut aku ini itu, kamu gak cinta aku apa adanya ya?”
“Hei aku udah bertahan 5 tahun pacaran sama kamu. Dan selama 5 tahun ini aku selalu ngalah sama kamu, aku turutin semua mau kamu, tapi kamu apa? Aku Cuma pengen kamu berubah jadi yang lebih baik lagi. Dan itu bukan Cuma buat aku tapi juga buat diri kamu sendiri. Aku pengen kamu dandan karna kamu itu cewek, cewek itu rapi, bersih, wangi gak urakan kaya kamu. Aku pengen kamu belajar karna aku gak mau kamu terus-terusan dapat nilai jelek. Aku pengen kamu ngerubah sikap egois dan semena-mena kamu biar kamu punya temen. Kamu mau selamanya gak punya temen? Iya?”
“Terus mau kamu sekarang apa? Putus? Hah?”Tanya Steffi yang sudah benar-benar marah hingga mengucap kata putus
“Oke fine, kalo itu mau kamu.”Iqbaal bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja meninggalkan Steffi
Semenjak kejadian itu Steffi sadar kalau ia memang salah karna tidak pernah menuruti kemauan Iqbaal padahal Iqbaal selalu sabar dengan sikap-sikap buruknya. Mungkin malam itu Iqbaal sudah benar-benar  capek dengan sikapnya hingga ia semarah itu. Selama 5 tahun pacaran, Iqbaal tak pernah sekalipun marah padanya. Iqbaal selalu sabar dan menerimanya apa adanya.
“Aku bodoh banget Baal udah nyia-nyiain kamu, sekarang aku sadar gak ada satu orangpun yang bisa sayang sama aku setulus kamu. Aku bahkan gak tau apa aku pantes dapat kesempatan kedua dari kamu.”
*
Cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela kamar Steffi membuat Steffi  harus terbangun dari tidurnya. Steffi baru tidur saat jam menunjukkan 3 pagi. Steffi menghabiskan waktunya semalam suntuk untuk menangis, hal yang selalu Steffi lakukan setiap malam semenjak putus dengan Iqbaal. Dan tadi malam benar-benar tangisannya yang paling besar. Steffi mengucek matanya sambil menggeliat diatas tempat tidurnya. Steffi mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menunggu nyawanya terkumpul. Stelah nyawanya benar-benar terkumpul Steffi melirik weker di sebelahnya. Mata Steffi membelalak saat itu juga”Astaga gue telat.”
*
Steffi menselonjorkan kakinya dipinggir lapangan. Ia baru  saja menjalani hukuman karna terlambat datang. Yah memang sudah biasa mengingat Steffi biasanya terlambat paling tidak 3kali dalam seminggu. Dada Steffi tiba-tiba terasa sesak, biasanya saat seperti ini Iqbaal akan datang membawakan minum sambil mengelap keringat Steffi. Dan Iqbaal akan bilang”Kamu gimana sih sayang, kan aku udah bilang jangn main PS sampe larut malem kalo belajar sih gak papa, kamu mau tiap hari disuruh berdiri sambil hormat ke bendera? Enggak kan?”
Steffi menghela nafasnya, ia tidak mau menangis didepan umum. Steffi harus bisa menerima kenyataan kalau tidak akan ada lagi yang mengingatkannya untuk makan, belajar dan sebaginya. Karna mulai hari ini Iqbaal sudah tidak tinggal lagi di Indonesia. Steffi terlonjak saat merasakan ada yang menepuk pundaknya.
“Kenapa sih?”Tanya Steffi ketus karna sebal sudah dikageti
Seorang gadis imut kini tengah berdiri disampingnya”Ada titipan buat lo.”ujarnya sambil mengulurkan amplop berwarna ungu
“Dari siapa?”tanya Steffi sambil mengamati surat yang kini sudah ada ditangannya
“Iqbaal.”jawab Bella, gadis itu”Lo gimana sih, lo kan mantannya Iqbaal kok gak nganterin Iqbaal ke bandara? Anak-anak aja banyak banget yang nganterin dia.”
Steffi terdiam”Bukannya gue gak mau, gue Cuma gak sanggup ngelepas Iqbaal.”batin Steffi
Melihat Steffi yang hanya termenung, Bella memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa pamit.
*
Steffi memasuki rumahnya yang benar-benar sepi. Rumah sebesar ini hanya ditempati Steffi bersama pembantunya. Orang tua Steffy sudah bercerai semenjak Steffi duduk dikelas 4 SD. Steffi tinggal bersama papanya semantara mamanya sudah menikah lagi dan sekarang tinggal di Bandung. Papa Steffi hanya pulang beberapa kali dalam setahun. Steffi merasa kalau papanya sudah tidak perduli lagi padanya, mamanya pun tidak pernah sekalipun menelponnya sekedar menanyakan kabar atau apa. Semenjak kelas 4 SD Steffi tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya lagi dan itulah yang membuat Steffi menjadi seperti ini.
Steffi menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya yang berada dilantai 2. Sesampainya dikamar ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tas dan sepatunya ia lempar begitu saja. Steffi merogoh sakunya lalu mengeluarkan surat dari Iqbaal yang belum ia baca.
Stef, sebenernya aku berharap banget kamu nganterin aku hari ini tapi ternyata kamu nggak dateng. Aku masih pengen ketemu kamu tapi mau gimana lagi? Aku terpaksa Stef mutusin kamu. Orang tua aku nggak pernah setuju sama hubungan kita. Please percaya sama aku Stef, seburuk apapun kamu aku tetep cinta sama kamu. Aku nggak punya pilihan lain selain nurutin permintaan orang tua aku buat ninggalin kamu dan sekolah di Amrik.mereka gak suka sama kamu karna mereka pikir kamu gak baik buat aku makanya aku mati-matian buat ngerubah kamu. Tapi ternyata gak berhasil dan akhirnya aku harus ngalah sama orang tua aku.
Jaga diri kamu ya Stef, aku harap kamu bisa berubah jadi yang lebih baik lagi. Pokoknya sepulang dari Amrik aku pengen liat kamu yang baru. Steffi yang feminim, Steffi yang baik, dan Steffi yang punya banyak temen, okey? Kamu harus janji ya buat berubah, aku nyuruh kamu berubah bukan karna aku nggak cinta kamu apa adanya tapi aku pengen kamu jadi cewek yang lebih baik lagi.
I love so much, Steffi
Iqbaal
Steffi tersenyum simpul setelah membaca surat dari Iqbaal”Aku janji bakal berubah Baal, demi kamu. Dan aku berharap kalo kamu pulang nanti aku bakal dapat kesempatan kedua dari kamu.”
TAMAT

0 komentar:

Poskan Komentar